Senin, 16 Maret 2015

R O K A T E N D A.....
Sebuah Harapan Yang TAK PERNAH PUDAR.





“…..Saat itu...ketika G. Api Rokatenda Meletus...dalam perjalanan dari Lei menuju Nitung, menyusuri jalur aliran lahar di Ojeubi...menyaksikan merahnya seng atap rumah yang karat dan jebol akibat abu gunung rokatenda......menyaksikan jembatan yang putus....menyaksikan bocah-bocah yang tidak bersekolah di nitung karna semua guru dan teman - teman sekolah yang telah mengungsi....menyaksikan orang yang tidak bisa menggunakan air dari bak penampung akibat abu gunung rokatenda....menyaksikan guru yang harus berjalan kaki dari rokirole ke lidi karna akses jalan yang putus...menyaksikan putihnya semua tanaman di lidi yang tertutup abu G. Rokatenda...menyaksikan bocah - bocah bersekolah di tenda pengungsian....menyaksikan kehidupan ditempat pengungsian...dan menyaksikan setiap upaya kemanusiaan dari semua orang untuk palu'e...dalam hati sy berharap, semoga suatu saat sy bisa menjejakan kai di Kawah G. Rokatenda”
                                                                    *********


Siang itu sy mendapat sebuah singkat melaui sms dari Palu'e, isi pesannya hanya sebuah pertanyaan..."Mau ke G. Rokatenda..??. dan sy hanya membalas pesan tersebut dengan sebuah jawaban singkat dengan hufur kapital…" SANGAT". Jam 05.00 Pada hari yang sudah di tentukan, sy dan Hy Fredy "sang pelancong" menuju Pulau Palu'e melalui Pelabuhan L. Say Maumere. Lamanya perjalanan yang harus ditempuh kurang lebih 4 Jam untuk sampai ke palu'e, dan Putri Dela, nama motor laut yang kami tumpangi itu membawa kami tiba di Palu'e.

Kami kemudian bertemu dengan Om Icong, demikian beliau selalu di sapa. Beliau adalah seorang sekretaris desa di Kantor Desa Kesokoja. Beliaulah yang akan memandu kami melakukan pendakian G. Rokatenda.

Harapan YG TAK PERNAH PUDAR.

Kami memulai perjalanan kami untuk mendaki G. Rokatenda pada jan 02.00 pagi. Dari Kesokoja kami menggunakan sepeda motor menuju wolondopo yang kemudian dilanjutkan dengan perjalanan kaki. Seiring ayunan langkah kaki dalam pendakian menuju G. Rokatenda, potongan – potongan catatan yang ada pada sebuah buku lusuh pada saat G. Rokatenda meletus kembali satu persatu muncul dalam ingatanku.

Pendakian yang kami lakukan sedikit terhambat ketika kami harus mencari jalan setapak. Karna sejak meletusnya G. Rokatenda sampai dengan pendakian yang kami lakukan pagi itu, belum pernah lagi dilakukan pendakian ke G. Rokatenda, sehingga jalan setapak yang biasanya dilalui sebagai jalur pendakian sudah tertutup semak belukar yang lebat. Ada sedikit kecemasan ketika ada usulan untuk kembali dn pendakian dilakukan pada keesokan harinya, yang kemudian hilang karna jalur jalan setapak ditemukan dan kami kemudian melanjutkan pendakian menuju G. Rokatenda. Jam 5.30 kami tiba di puncak G. Rokatenda. Istirahat sejenak sambil menikmati dan mengabadikan sunrise puncak G. Rokatenda, kami kemudian turun menuju kawah G. Rokatenda, dan….harapan yang tak pernah pudar itupun terwujut ketika langkah kaki sampai di titik pusat kawah G. Rokatenda. "Perjalananku bukan perjalananmu, perjalananku juga perjalananmu".  (AlHilari)

Pendakian malam hari.

Menikmati Sunrise.

Mengabadikan sunrise.

Yang selalu terlihat dalam perjalanan maumere ke palue atau sebaliknya.

Kawah G. Rokatenda.

Mengabadikan kawah & titik pusat letusan.

Sisa - sisa belerang yang mengering.

Sebelum pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar